Selasa, 05 Januari 2010

tempat wisata paling menarik di Banyuwangi





<-- SUKAMADE

PLENGKUNG (G-LAND) -->

NAMANYA Fritz Simon, usianya 40 tahun. Ia lahir di sebuah kota di Australia, namun ia tak mau jati dirinya dipaparkan lengkap. Orangtuanya berasal dari Inggris dan berusaha di bidang pertanian hortikultura. Fritz-panggilan akrabnya-diharapkan sang ayah bisa melanjutkan usahanya itu. Sebab, saudaranya yang lain menekuni profesi sebagai dokter dan saudara perempuannya yang sudah menikah lebih senang menjadi dosen.

“Lautan biru yang membentang luas itu tak pernah tidur. Gemuruh ombak terus menggebu, berpacu menggerakkan lidah airnya untuk terus-menerus menjilati pasir di pantai. Itulah dinamika kehidupan samudra luas. Itulah lukisan alam tentang kehidupan anak manusia di muka bumi,” demikian bunyi sebagian catatan Fritz dalam buku hariannya. Ia mengaku, catatan itu telah diterjemahkan pemandunya dan didiskusikan bersama.

Fritz Simon juga cukup lancar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. “Tapi belum mahir seperti dia,” katanya sambil menunjuk Putu Astana, pemandu wisata asal Denpasar yang menyertai rombongannya. Saat itu mereka menginap di sebuah hotel dalam perkebunan di daerah Banyuwangi.

Pantai Plengkung yang terletak sekitar 90 kilometer selatan Kota Banyuwangi itu memang sudah terkenal di luar negeri. “Banyak peselancar yang mengakui lokasinya sangat bagus, panoramanya indah. Ombaknya disebut-sebut sebagai terbaik kedua setelah arena selancar air di Hawaii,” ujar Margono, Kepala Subdinas Sarana Pariwisata pada Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kabupaten Banyuwangi. Pantai Plengkung adalah salah satu obyek wisata dari “segi tiga berlian” yang dijadikan andalan obyek wisata di Banyuwangi.

Kepala Seksi Promosi Pariwisata Rundiati yang mendampingi Margono menyatakan, tanggal 9-14 September lalu di Pantai Plengkung dilaksanakan lomba selancar air (surfing) tingkat internasional yang dikenal dengan “Banyuwangi G-Land International Team Challence”. Lomba itu diikuti 12 tim selancar air dari delapan negara dengan jumlah atlet 86 orang. Mereka antara lain dari Australia, Perancis, Inggris, Amerika, dan Selandia Baru. Tidak ketinggalan tim Indonesia yang diwakili atlet peselancar dari Bali.

OBYEK wisata lain yang masuk dalam “segi tiga berlian” Banyuwangi adalah kawah Gunung Ijen (Ijen Crarter). Pemandangan di sana memang indah dan unik. Perjalanan menuju ke obyek itu sebagian lewat jalan setapak yang terjal di perkebunan kopi dan hutan lindung. Pemandangannya pun bervariasi. Jika alam sedang ramah, banyak jenis burung yang beterbangan di alam bebas sambil sesekali berkicau.

Semakin mendekati kawah di puncak gunung, bau menyengat mulai terasa. Setelah sampai di bibir kawah, bau belerang terasa semakin kuat. Kita seperti berdiri di “bibir panci”. Di belakang kita adalah lereng gunung yang terjal, dan di depan ada lubang besar menganga yang bernama kawah dan kaldera.

The Handbook to Tourism Objects of Banyuwangi, mencapai 2.000 hektar, terletak sekitar 32 kilometer dari Kota Banyuwangi. Namun, jalan ke sana yang paling baik lewat Kabupaten Bondowoso. Kawah berada pada ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut.

OBYEK wisata ketiga yang masuk dalam “segi tiga berlian” adalah Pantai Sukamade di kawasan Taman Nasional Merubetiri. Lokasinya sekitar 100 kilometer barat daya Kota Banyuwangi. Pantai Sukamade merupakan habitat dan penangkaran penyu. Di sini terdapat lima jenis penyu, dan pengunjung dapat “mengintip” penyu-penyu yang sedang bertelur di pasir pantai. Kegiatan itu biasanya terjadi pada malam hari, terlebih jika bulan sedang purnama.

Sekitar Pantai Plengkung juga banyak obyek wisata alam yang menarik, terutama bagi mereka yang senang bertualang. Taman Nasional Alas Purwo yang “memangku” Pantai Plengkung merupakan ekosistem hutan tropis dataran rendah dengan vegetasi hutan pantai dan mangrove.

Topografinya bergelombang sampai datar, dan yang paling tinggi adalah puncak Gunung Linggar Manis (322 meter). Selain Plengkung, pantai di kawasan Alas Purwo itu yang banyak disenangi adalah Pantai Trianggulasi dan Pancur. Dari tempat ini juga bisa disaksikan panorama indah terbenamnya Matahari.

Meskipun tidak termasuk dalam “segi tiga berlian”, sebenarnya masih banyak pemandangan alam yang indah di Kabupaten Banyuwangi. Sebutlah antara lain Pantai Meneng dan Taman Wisata Watudodol. Banyuwangi juga memiliki pemandian air terjun Antogan yang letaknya hanya 16 kilometer dari pusat kota, serta beberapa lokasi agrowisata yang cukup baik.

Belum lagi wisata budaya, seperti perkampungan Osing, tarian gandrung, serta kesenian tradisional lainnya. Kabupaten ini juga memiliki museum, yang antara lain menyimpan benda-benda bersejarah asli Banyuwangi. Beberapa situs dan tempat-tempat bersejarah sampai Klenteng Ho Tong Bio yang didirikan tahun 1768-1784 juga bisa dijadikan obyek wisata.

Masih banyak lagi obyek yang bisa “dipasarkan”. Sebutlah upacara tradisional Petik Laut di pusat perikanan Muncar atau Pancer. Yang tidak kalah menariknya adalah berbagai peninggalan yang berkaitan dengan Kerajaan Blambangan. Minakjinggo dan Dayun, raja dan abdi di kerajaan ini sangat populer dalam cerita pertunjukan seni ketoprak. Itulah Banyuwangi, yang menyebut dirinya sebagai The Real Tropical Country, Bumi Tropis Senyatanya.

SAYANGNYA, banyak obyek wisata yang belum terbenahi secara rapi, terutama sarana jalan dan transportasi yang pada umumnya belum memadai. Banyak pengunjung yang mengeluh betapa sulitnya mencapai Taman Nasional Alas Purwo dan Pantai Plengkung dengan menggunakan kendaraan umum. Demikian juga untuk mendatangi Pantai Sukamade dan kawah Ijen. Petunjuk perjalanan ke berbagai obyek itu juga sangat minim, dan peta wisata yang ada tidak banyak menolong.

Untuk mencapai Banyuwangi memang tidak sulit, baik dari arah Surabaya maupun Denpasar (Bali). Namun, jarak yang harus ditempuh terlalu jauh, empat jam atau lebih. Sebagai “turis singgah” itu sudah sangat melelahkan, namun untuk menjadi tujuan wisata rasanya Banyuwangi belum memadai.

Selain itu, semangat meningkatkan pemasukan PAD (pendapatan asli daerah) juga ada yang berimbas pada kegiatan pariwisata. Misalnya, dinaikkannya karcis masuk ke beberapa obyek sampai “retribusi” terhadap kamera atau alat rekam lain yang dibawa wisatawan.

Untuk mengatasi faktor jarak dan waktu, Banyuwangi mulai membangun lapangan terbang. Pencanangan awal pembangunannya dilakukan oleh Wakil Presiden Hamzah Haz didampingi Menteri Perhubungan Agum Gumelar tanggal 27 Agustus 2003. Lokasinya di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, sekitar 20 kilometer dari pusat kota.

Selain untuk menopang kegiatan bisnis puluhan pengusaha dan eksportir di Banyuwangi, lapangan terbang ini diharapkan juga memberikan banyak kemudahan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Banyuwangi. Jarak tempuh Surabaya-Banyuwangi atau Denpasar-Banyuwangi lewat darat yang memakan waktu minimal empat jam bisa dipersingkat menjadi 15-20 menit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar